Jakarta – Dua hari terakhir media masa dan media sosial banyak diwarnai dengan kontroversi soal pernyataan Presiden Joko Widodo di Rapat Umum Relawan Jokowi yang diselenggarakan Sabtu (4/8) lalu di SICC Sentul. Awalnya beredar video berdurasi sangat pendek yang menayangkan pidato Jokowi dengan pernyataan “tapi kalau diajak berantem juga berani”. Yang kontra, khususnya musuh-musuh politiknya, seolah mendapatkan “bonus” momentum besar untuk menyerang Jokowi yang juga akan segera mencalonkan diri sebagai capres periode 2019-2024. Yang pro sudah pasti membela mati-matian dengan segala macam argumen masing-masing.

Apa sebenarnya makna dari kata-kata Presiden di hadapan ribuan relawannya itu? Untuk bisa menangkap makna, kita tidak bisa hanya sekadar menelan mentah-mentah kata-kata tersebut secara harfiah. Kita perlu mengikuti konten pidato secara lengkap, dan yang tidak kalah penting juga memahami konteksnya. Karena konten tanpa konteks membuat kita akan mengambil kesimpulan terlalu dini dan berujung pada pemahaman yang tidak tepat.

Jika dicemati isi pidato Presiden secara lengkap yang berdurasi lebih kurang 14 menit, sebenarnya alurnya cukup terstruktur. Jokowi membuka dengan pesan persatuan, persaudaraan, dan kerukunan sebagai aset terbesar bangsa yang juga anugerah Tuhan yang harus dijaga. Setelah memberikan rangkaian pesan lain terkait apa yang harus dilakukan relawan menuju Pilpres 2019, Jokowi masuk ke penekanan agar kampanye nanti harus dilakukan dengan simpatik. Relawan harus bisa bersahabat dengan semua golongan, tidak membangun permusuhan, ujaran kebencian, fitnah, dan tidak menjelekkan orang lain. Bagian ini dipaparkan dari menit pertama hingga kira-kira menit ke-9.

Jadi, ketika kemudian di menit selanjutnya Jokowi menyampaikan, “Tapi kalau diajak berantem juga berani,” sebenarnya pesan tentang menjaga suasana kondusif sudah dijelaskan panjang lebar dan bahkan mendominasi hampir seluruh isi pidato. Apalagi selanjutnya ia menekankan juga, “Tapi jangan ngajak lho…saya garis bawahi jangan ngajak. Kalau diajak, tidak boleh takut….” Bahkan menit ke-10 sampai seterusnya dia sama sekali tidak lagi menyinggung soal berantem tadi.

Lalu, mengapa Presiden harus mengeluarkan pernyatan seperti itu? Di sinilah kita harus cermat memahami konteks. Bisa dibilang sosok yang paling kenyang menelan fitnah, berita bohong, hoax, ujaran kebencian, dan segala konten negatif lainnya, ya Jokowi ini. Apalagi jelang Pemilihan Presiden 2019, tensi serangan makin membabi buta, tidak hanya pada program dan kebijakannya tapi juga pada identitas pribadinya.

Sudah tak terhitung berapa banyak materi-materi visual dan audio visual yang memenuhi ruang dunia maya berisi cacian, hujatan, fitnah, dan pemutarbalikan fakta. Belum lagi identitas Jokowi yang digoreng dengan isu “asing-aseng-asong”, anti-Islam, bahkan PKI. Dan, semakin dekat dengan waktu pilpres, serangan itu makin gencar dan makin tajam.

Lalu, apa yang Jokowi lakukan? Bersama kementerian dan lembaga negara, berbagai isu kebijakan coba ditepis dan diluruskan dengan fakta dan dukungan data. Di saat yang sama, Jokowi selalu menunjukkan gesture yang tenang, humble, kalem, tidak ingin buka front, dan mencoba selalu mengambil posisi “berdamai” dengan semua pihak. Lihat saja ketika dia menjenguk sosok politisi yang sedang sakit yang jelas-jelas sering mengkritisi lewat pernyataan di media massa maupun unggahannya di media sosial.

Lihat juga bagaimana dia selalu mencoba mengalihkan pertanyaan-pertanyaan media yang menjurus pada penggiringan opini terhadap orang atau tokoh tertentu. Intinya, Jokowi selama ini berusaha menunjukkan sikap cinta damai dan tidak suka memulai masalah. Jadi, kalau kemudian kata-kata “berantem” itu dimaknai sebagai “gelut adu fisik” sepertinya itu bukan gaya yang biasa dia munculkan, atau meminjam istilah anak sekarang “nggak Jokowi banget”.

Dan, Jokowi juga tidak bodoh untuk kemudian mengambil diksi “berantem” itu secara sembarangan. Dia sadar betul pemilihan kata ini bisa jadi akan menimbulkan pro-kontra, tapi justru di sini dia sengaja membuka wacana soal berantem yang lebih intelek. Serangan terhadap kebijakan dan pribadi harus dijawab dengan fakta dan data. Di sisi lain dia juga cukup cerdik untuk memberi sinyal kepada para musuh politiknya. Bahwa, meskipun segala kerendahan hatinya selama ini, dia tidak akan diamkan serangan gencar itu, dia akan tunjukkan kalau memang serangan tidak berhenti juga, dia siap untuk “berantem”, dengan adu data, adu pencapaian, adu gagasan, adu pemikiran dan adu-adu yang sifatnya lebih substantif.

Agak dangkal kalau kemudian secara buru-buru banyak pihak (khususnya oposisi) menuduh Jokowi akan membuat bangsa jadi terpecah belah, bahkan ada politisi yang meminta Kapolri menangkap Jokowi karena berpotensi mengakibatkan perang sipil. Kelihatan sekali banyak yang berusaha menangkap momentum ini untuk menambah amunisi hujatan kepada Jokowi dari sisi yang selama sulit diserang.

Jokowi adalah Jokowi yang akan terus memunculkan kejutan-kejutan dalam komunikasi politiknya. Kadang dia bermain dengan simbol yang harus bisa diterjemahkan dengan cerdas. Dia juga bisa dibilang sosok pemimpin yang mengambil delapan kunci kepemimpinan Raja Jawa yang meskipun rendah hati, tapi tetap tegas dan punya pendirian. Kalau mau belajar memahami dan mencermati, seharusnya kejutan itu dicerna dulu baik-baik, dicari maknanya sebelum menjadikannya alat serang. Karena, bisa jadi serangan itu akan berbalik dan justru kontraproduktif bagi musuh politiknya.

Adita Irawati Staf Khusus Presiden, pengamat komunikasi.

Sumber : Detik

TERTARIK UNTUK BERMAIN GAME POKER ONLINE? Langsung Join BOSHEPOKER...BOSHEPOKER.NET AGEN JUDI POKER ONLINE UANG ASLI TERPERCAYA INDONESIA 2018 BOSHEPOKER adalah sebuah situs layanan permainan game dengan alternatif baru yaitu secara online, baik melalui web ataupun mobile. Nikmati pengisian saldo kapan saja di mana saja - 24/7

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here