Kudus – Paring (88) kakek penjual celengan kendi yang terluka, diduga akibat dipukul oleh preman, sampai saat ini sudah berada di rumahnya. Ia mengaku tidak akan jualan lagi.

Setelah kejadian pemukulan itu, ia mengalami luka di bagian pelipis kepala. Saat ini ia tinggal di Kedungwaru Kidul RT 01/03, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Demak.

Sebelumnya, Paring yang menjual celengan kendi dari tanah liat di sekitar Jalan Veteran dan Jalan Sunan Muria, Kudus itu menjadi perbincangan hangat warganet, sejak Jumat (20/4/2018) malam.

Adapun rumahnya berada perbatasan Kudus dengan Demak. Ditemui di rumahnya, tampak terlihat Paring, sedang santai di depan rumah. Pria ini tinggal di rumah berlantai dua.

Tampak di pelipis bagian kiri terlihat lukanya diperban. Ada sekitar lima jahitan. Pria kelahiran 12 April 1930 itu menceritakan hal yang diingatnya meski harus mengingatnya dengan keras.

“Saya saat itu berdiri, terus dipukul dua orang. Satunya agak muda, dan satunya tua,” kata Paring mencoba mengingat apa yang dialaminya itu.

Dia mengaku telah dipukuli dua kali di bagian kepala. Akibatnya, terjadi luka sobek di pelipis kepalanya. Pria kelahiran Demak ini berupaya melakukan perlindungan semampunya. Namun tenaganya yang lemah karena usia, membuatnya tetap tak berdaya saat diserang.

Paring tak tahu penyebab dia dipukuli. Kakek 7 cucu ini berupaya menjelaskan apa maksudnya sampai dia dipukuli. Yang jelas, sebelumnya, ada orang mendatanginya untuk mengingatkan letak dari dagangannya itu.

Tiba-tiba, terjadi adu mulut antar mereka. Ujungnya, terjadi pemukulan terhadap kakek Paring. Hingga luka di pelipisnya. Ketika ditanyakan apakah uangnya hilang.

“Uang tidak hilang. Ada uang 2 juta tidak hilang. Barang dagangan juga tidak hilang,” ungkapnya.

Sebenarnya apa yang dilakukan Paring berdagang telah dilarang anggota keluarga lain. Sebab usianya sudah tua. “Kakek memang sudah lama jualan celengan tanah. Sejak sebelum menikah sudah jualan. Dulu jualannya sampai Surabaya. Sampai Banyumas,” kata seorang cucunya, Mahtiah (33).

Mengingat usianya sudah tua, maka Paring berjualan di kota tetangga yaitu di Kudus. Paring kulakan di Mayong Jepara. Dari rumah, Paring naik ojek ke Mayong sekitar pukul 04.00 WIB. Barang hasil kulakan, dijualnya ke Kudus.

“Begitu seterusnya sampai sekarang,” ujar Mahtiah.

Mahtiah menceritakan perjuangan kakeknya. Untuk sekali berangkat, Paring bisa sampai satu atau dua minggu baru kembali ke rumah. Dengan penghasilannya tak tentu. Biasanya bisa sampai Rp 500 ribu.

“Celengan kendi dijual Rp 30 ribu. Kadang ada yang beli dengan harga lebih tinggi. Karena kasihan,” ungkapnya.

Dari hasil kerjanya sejak muda hingga usianya senja, Paring bisa membangun rumah untuk keluarga. Empat rumah total yang sudah dibangun. Ada tiga unit rumah untuk cucunya, dan satu unit untuk ditempatinya. Mahtiah juga membeberkan keinginan kakeknya sekarang, yaitu tidak akan jualan lagi.

“Kapok jualan usai kejadian ini,” pungkasnya.

Sumber : Detik

TERTARIK UNTUK BERMAIN GAME POKER ONLINE? Langsung Join BOSHEPOKER...BOSHEPOKER.NET AGEN JUDI POKER ONLINE UANG ASLI TERPERCAYA INDONESIA 2018 BOSHEPOKER adalah sebuah situs layanan permainan game dengan alternatif baru yaitu secara online, baik melalui web ataupun mobile. Nikmati pengisian saldo kapan saja di mana saja - 24/7

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here