Jakarta – Presiden Joko Widodo (Jokowi) meluapkan kegeramannya terhadap cara-cara politik kotor di pemilu. Gaya itu disebut Jokowi politik sontoloyo.

Politik sontoloyo ini dikemukakan Jokowi dalam dua hari terakhir. Jokowi tak senang dengan gaya politik yang bisa memecah belah persatuan masyarakat.

Mulanya Jokowi berbicara saat mengikuti pembagian sertifikat hak atas tanah untuk masyarakat di Lapangan Sepakbola Ahmad Yani, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, Selasa (23/10).

“Mohon maaf, kita ini segala hal selalu dihubungkan dengan politik, padahal kehidupan itu tidak hanya politik. Ada sosial, ekonomi, tapi kenapa selalu dihubungkan dengan politik? Itulah kepandaian politikus kita,” kata Jokowi.

“Hati-hati, banyak politik yang baik-baik, tapi juga banyak sekali politik yang sontoloyo. Ini saya ngomong apa adanya saja sehingga mari kita saring, kita filter, mana yang betul dan mana yang tidak betul. Karena masyarakat saat ini semakin matang dalam berpolitik,” kata Jokowi.

“Jangan sampai kita dipengaruhi oleh kepentingan politik sesaat yang mengorbankan persatuan, persaudaraan, dan kerukunan kita,” imbuh dia.

Jokowi lantas menjelaskan maksud pernyataannya mengenai politik sontoloyo. Gaya politik ini, disebut Jokowi, tidak sehat tapi sering dilakukan.

“Jadi begini, menjelang pemilu ini, banyak cara yang tidak sehat digunakan oleh politisi. Segala jurus dipakai untuk mendapat simpati rakyat. Tapi yang nggak baik sering menyerang lawan-lawan politik dengan cara-cara tidak beradab, tidak beretika, tidak ada tata kramanya, itu yang nggak sehat seperti itu,” jelas Jokowi kepada wartawan di ICE BSD, Tangerang, Banten, Rabu (24/10/2018).

Karena itu, Jokowi mengingatkan, saat ini bukan lagi era berkampanye dengan memecah belah. Para politikus sebaiknya berkampanye dengan mengedepankan gagasan dan prestasi.

“Sebab itu, saya ingatkan, ini bukan zamannya lagi menggunakan kampanye-kampanye, misalnya politik adu domba, politik pecah belah, politik kebencian, sudah bukan zamannya. Zamannya sekarang politik adu program, kontestasi program, kontestasi adu gagasan, adu ide, adu prestasi, sudah sering saya sampaikan. Kalau masih pakai cara-cara lama seperti itu, masih politik kebencian, politik adu domba, pecah belah, itu namanya politik sontoloyo,” papar Jokowi.

Bahasan politik sontoloyo ini kembali disinggung saat peresmian Pembukaan Pertemuan Pimpinan Gereja dan Rektor/Ketua Perguruan Tinggi Keagamaan Kristen Seluruh Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Rabu (24/10).

Dia menuturkan, selama ini tidak ada permasalahan mengenai kebinekaan. Namun persatuan masyarakat terganggu saat kontestasi politik, mulai pemilihan kepala daerah hingga pilpres.

Cara-cara politik kotor dan adu domba, yang dinilai Jokowi dapat memecah belah bangsa, dilakukan hanya untuk mendapatkan kekuasaan. Cara-cara seperti itulah yang membuat dia kesal.

“Cara-cara politik adu domba, cara-cara politik memfitnah, cara-cara politik memecah belah hanya untuk merebut sebuah kursi, sebuah kekuasaan, dihalalkan. Nah, dimulai dari sini, sehingga muncul. Kalau saya sampaikan, ya sedikit masalah yang sebetulnya sudah berpuluh tahun tidak ada masalah,” katanya.

Kesal terhadap cara berpolitik kotor, Jokowi mengaku kelepasan mengeluarkan istilah ‘politik sontoloyo’. Dia sendiri menegaskan tidak pernah mengeluarkan istilah itu sebelumnya.

“Inilah kenapa kemarin saya kelepasan, saya sampaikan ‘politikus sontoloyo’ ya itu. Jengkel saya. Saya nggak pernah pakai kata-kata seperti itu. Karena sudah jengkel, ya keluar. Saya biasanya ngerem, tapi sudah jengkel, ya bagaimana,” kata Jokowi.

Sumber : Detik

TERTARIK UNTUK BERMAIN GAME POKER ONLINE? Langsung Join BOSHEPOKER...BOSHEPOKER.NET AGEN JUDI POKER ONLINE UANG ASLI TERPERCAYA INDONESIA 2018 BOSHEPOKER adalah sebuah situs layanan permainan game dengan alternatif baru yaitu secara online, baik melalui web ataupun mobile. Nikmati pengisian saldo kapan saja di mana saja - 24/7

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here