Bandung – Bandung menjadi salah satu kota tujuan para lulusan SMA untuk mencari ilmu. Di kota bersejarah itu, puluhan kampus berdiri. Tapi bagaimana biaya hidupnya?

Salah satunya diceritakan Awallina Ilmia Khanza (23), mahasiswa semester VIII Jurusan Jurnalistik, Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Bandung. Sejak berkuliah, Awal–sapaan karibnya–pernah tinggal di pesantren dan tempat kos. Menurutnya, biaya di pesantren lebih murah dibandingkan di tempat kos.

“Pesantren satu tahun setengah dari semester satu sampai semester tiga di Pondok Pesantren Mahasiswa Universal Cipadung. Uang masuk Rp 500 ribu, biaya per bulan Rp 200 ribu. Setiap tahun ajaran baru, (biaya) naik dari Rp 50-100 ribu. Asalnya Rp 200 ribu pas tahun 2014, tahun berikutnya naik menjadi Rp 250 ribu. Keluar tahun 2015, pindah ngekos,” katanya saat ditemui detikcom di Gedung U Fakultas Dakwah dan Komunikasi, Senin (9/7/2018).

Karena selama tinggal di pesantren ia tidak dapat mengikuti kegiatan organisasi intra dan ekstra kampus. Akhirnya ia memilih keluar dan ngekos di salah satu asrama kos putri yang lokasinya masih di daerah Cipadung.

“Saya ngekos dari semester empat sampai semester tujuh di Asrama An-Nur Permai, Cipadung, dengan biaya per tahun Rp 1,5 juta. Jika dirata-rata per bulan sekitar Rp 300 ribu, tapi di sana nggak bisa bayar per bulan, harus per tahun,” ujarnya.

Mahasiswa yang kini sedang menyusun tugas akhirnya itu mengungkapkan, di sekiatar UIN, jarang tempat kos yang bayarannya bisa per bulan. Kebanyakan mesti bayar per tahun. Jika ada yang per bulan, harganya terhitung lebih mahal, ada yang Rp 400 ribu, ada juga yang Rp 500 ribu.

“Lokasi dan fasilitas juga menentukan. Saya dulu ngekos di lokasi yang lebih strategis, fasilitas juga ngaruh. Kalau di kawasan Manisi, Rp 200-500 ribu, di sana beberapa bisa per bulan (bayarnya). Kalau di Permai rata-rata per tahun. Kalau yang murah belum ada fasilitas. Kalau di sana sudah ada fasilitas, seperti kasur, Wi-Fi, listrik, kamar mandi di dalam, halaman luas, dan ada kantin di dalam, seperti warteg,” ungkapnya.
Baca juga: Mau Kuliah di Malang? Ini Estimasi Biaya Hidup Ala Mahasiswa

Selain itu, terkait jarak antara kosan dan kampus, semakin dekat akan semakin mahal. Semakin jauh akan semakin murah. Dekat dengan kampus tidak mengeluarkan ongkos bensin karena bisa berjalan kaki. Jika jaraknya jauh, harus mengeluarkan uang bensin atau ongkos kendaraan angkutan umum.

Saat disinggung apakah mahasiswa tahun ajaran baru yang akan masuk UIN lebih enak masuk pesantren atau ngekos, Awal lebih memilih ngekos karena waktunya lebih fleksibel. Namun di antara keduanya ada kelebihan dan kekurangan tersendiri.

“Enak ngekos. Waktu bisa menyesuaikan. Di pesantren ada waktu sendiri, kita nggak bisa ikut UKM yang jadwalnya juga tidak fleksibel karena sudah ditentukan. Tapi banyak ilmu tambahannya, seperti bahasa Arab, bahasa Inggris, tafsir, kebantu banget,” jelasnya.

Pengalamannya dulu jika dibandingkan dengan biaya hidup saat ia ngekos, menurutnya, lebih murah di pesantren. Namun, setelah tiga tahun berlalu, biaya hidupnya hampir sama.

“Dulu lebih murah. Sekarang hampir sama. Hal tersebut karena banyak peminatnya. Jadi harganya mahal. Dulu perbedaannya hampir Rp 1 juta. Sekarang sama saja. Pesantren banyak ilmu barunya, kalau ngekos cocoknya buat orang yang nggak bisa konsentrasi belajar dalam suasana ramai,” tuturnya.

Sementara itu, untuk biaya makan dan pengeluaran sehari, rata-rata di UIN tergolong lebih murah. Menurutnya, mahal dan murahnya pengeluaran makan tergantung cara menyiasatinya.

“Per hari paling Rp 10-15 ribu. Kenapa murah? Kan suka bawa nasi, uang itu digunakan buat minum atau jajan. Pas di pesantren makan disediain, terus dibawa ke kampus. Pas di kosan juga masak sendiri dan dibawa ke kampus, terus beras bawa sendiri dari rumah. Kalau lauk-pauk, malam masak, pagi beli. Itu paling hemat,” ujarnya.

Jika beli dari warung nasi, uang Rp 10-15 ribu itu bisa digunakan untuk satu kali makan. Dia lebih merekomendasikan untuk memasak dibandingkan membeli di warung nasi.

“Satu kali makan nasi dan lauk di warteg Rp 10 ribu paling murah, nasi, sayur, dan telur. Kalau pakai daging, Rp 15 ribu minimal. Jika makan di RM Padang sampai Rp 25 ribu,” katanya.

Awal menambahkan, biaya hidup selama ia berkuliah di UIN per bulan tidak lebih dari Rp 1 juta. Bahkan, dalam sebulan, ia hanya menghabiskan Rp 650 ribu. Uang tersebut termasuk pengeluaran lainnya, seperti membeli buku dan keperluan lainnya, tapi tidak termasuk untuk nongkrong.

“Per bulan Rp 650 ribu dikasih untuk makan dan pengeluaran lainnya. Cukup-nggak cukup harus cukup. Cuma, kalau harga bukunya yang mahal, dikasih uang tambahan. Maksimalin cari buku di perpustakaan sebelum beli. Kalau nggak ada, baru beli,” tambahnya.

Nah, untuk kebutuhan nongkrong, Awal tidak pernah menggunakan uang Rp 650 ribu itu yang diberi dari orang tuanya. Jika mau nongkrong, ia mencari uang tambahan dengan kerja paruh waktu.

“Sambil kerja part time di Hotel Lingga, kerja wedding gitu per minggunya. Alhamdulillah ada. Atau nulis di koran PR, rubrik mahasiswa. Setiap bulan dapat, setiap bulan dapat tambahan Rp 250 ribu. Nah, uang itu digunakan untuk nongkrong. Pokoknya, kalau kita mau berusaha, pasti banyak pemasukan,” pungkasnya.

Sumber : Detik

TERTARIK UNTUK BERMAIN GAME POKER ONLINE? Langsung Join BOSHEPOKER...BOSHEPOKER.NET AGEN JUDI POKER ONLINE UANG ASLI TERPERCAYA INDONESIA 2018 BOSHEPOKER adalah sebuah situs layanan permainan game dengan alternatif baru yaitu secara online, baik melalui web ataupun mobile. Nikmati pengisian saldo kapan saja di mana saja - 24/7

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here